Produk Terbaru Pilihan Anda

Kasus Indomie BSN Sinyalir Kasus Indomie Ada Persaingan

Selasa, 12 Oktober 2010 | 21:29 WIB
PTS
Rekaman Public Television Service (PTS) Taiwan saat petugas Departemen Kesehatan Taiwan tengah merazia dan menyita Indomie dari salah satu toko.
JAKARTA, KOMPAS.com — Kasus penarikan mi instan produksi Indonesia di Taiwan disinyalir persaingan dagang antara produsen mi instan mengingat produk tersebut telah mendapatkan sertifikat Standar Nasional Indonesia (SNI) dan standar dunia Codex Alimenterius Commission (CAC).
"Produk itu telah mendapatkan akreditasi SNI dan Codex internasional dan memiliki daya serap pasar sangat tinggi. Juga telah mendapatkan persetujuan Badan POM (Pengawasan Obat dan Makanan)," kata Deputi Bidang Penerapan Studi dan Akreditasi Badan Standar Nasional (BSN) Amir Partowiyatno, di Jakarta, Selasa (12/10/2010).
Dengan demikian, Amir mengatakan, ada kemungkinan besar persaingan daganglah yang melatarbelakangi kasus penarikan mi instan produksi Indonesia tersebut untuk menimbulkan kepanikan masyarakat.
Standardisasi mi instan pertama kali diusulkan Indonesia dan Jepang untuk dijadikan standar internasional pada sidang komisi CAC, Juli 1999, karena dinilai standar internasional mi instan diperlukan mengingat adanya perbedaan standar nasional di setiap negara.
BSN merupakan ketua penyusun draf standar mi instan internasional dengan bantuan China, Jepang, Korea, dan Thailand yang akhirnya mengeluarkan standar tersebut pada tahun 2006 lalu. Dengan demikian, Amir menyebut produk mi instan telah melalui pengawasan ketat.
Terkait kasus ditariknya peredaran mi instan produksi Indonesia di Taiwan, Amir pun kemudian meminta agar pemerintah segera melakukan tindakan untuk mencegah terjadinya kepanikan di masyarakat mengingat mi instan merupakan makanan populer di Indonesia. "Kementerian Perdagangan, Badan Sertifikasi Produk, dan Badan POM harus segera melakukan pengecekan dan operasi pasar," katanya.
Hal tersebut karena pelarangan peredaran mi instan itu akan berdampak buruk terhadap Indonesia.
Belajar dari kasus semacam itu, Amir mengatakan, standardisasi makanan telah menjadi sebuah kebutuhan bagi semua produsen dalam negeri, terutama bagi produk lokal yang tidak memiliki standar internasional. "Tujuannya adalah agar produk itu dapat lebih mudah diterima pasar. Dengan adanya standardisasi, maka produk itu akan bernilai tambah besar," ujarnya.
ANT
Sumber :
Editor: Erlangga Djumena Dibaca : 5931
Sent from Indosat BlackBerry powered by

Kasus Indomie Seret Nama Indonesia

Rabu, 13/10/2010 15:09 WIB

Suhendra - detikFinance

Jakarta - Kasus Indomie di Taiwan benar-benar membuat khawatir pemerintah. Indomie bukan hanya membawa nama PT Indofood Sukses Makmur Tbk namun juga membawa nama Indonesia.

Plt Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Deddy Saleh menyampaikan kekhawatirannya jika kasus Indomie ini tidak ditangani dengan baik bisa berpeluang melebar ke negara lain atau bahkan kepada produk Indonesia lainnya di luar negeri.

"Ini bukan masalah Indomie saja tapi ini masalah Indonesia," kata Deddy di sela-sela acara Trade Expo Indonesia JIExpo, Jakarta, Rabu (13/10/2010).

Saat ini pihaknya tengah melakukan pemantauan secara intensif melalui seluruh atase perdagangan (Atdag) maupun kedutaan besar Indonesia di luar negeri. Para Atdag ini akan memantau sejauh mana reaksi pasar negara lain pasca kasus Indomie di Taiwan.

"Saya sudah bicara dengan atase-atase perdagangan dan dubes untuk terus memantau di wilayahnya masing-masing," katanya.

Deddy menuturkan dalam kasus Indomie di Taiwan sama sekali bukan soal perang dagang, namun lebih pada standar yang berbeda antara Indonesia dengan Taiwan. Ia menegaskan dari pihak Indofood untuk produk yang resmi mereka kirim ke Taiwan sudah memenuhi standar sesuai permintaan pasar Taiwan.

Seperti diketahui, media-media di Taiwan mengabarkan penarikan Indomie dari sejumlah supermarket. Indomie ditarik karena mengandung Methyl P-Hydroxybenzoate yang dilarang di Taiwan. Tidak hanya di Taiwan, dua jaringan supermarket terbesar di Hong Kong juga menyetop penjualan produk Indofood itu. Pemerintah Hong Kong pun akan melakukan tes uji produk Indomie.

Namun, berdasarkan rilis resmi Indofood CBP Sukses Makmur, selaku produsen Indomie menegaskan, produk mie instan yang diekspor ke Taiwan sudah memenuhi peraturan dari Departemen Kesehatan Biro Keamanan Makanan Taiwan. BPOM juga telah menyatakan Indomie tidak berbahaya.

"Sehubungan dengan pemberitaan di media massa Taiwan baru-baru ini, mengenai kandungan bahan pengawet  E218 (Methyl P-Hydroxybenzoate) dalam produk mi instan Indomie, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) menjelaskan bahwa produk mi instan yang diekspor oleh Perseroan ke Taiwan telah sepenuhnya memenuhi peraturan dari Departemen Kesehatan Biro Keamanan Makanan Taiwan," jelas Taufik Wiraatmadja, Direktur ICBP dalam siaran persnya.

ICBP telah mengekspor produk mi instan ke berbagai negara di seluruh dunia selama lebih dari 20 tahun. Perseroan senantiasa berupaya memastikan bahwa produknya telah memenuhi peraturan dan ketentuan keselamatan makanan yang berlaku di berbagai negara dimana produk mi instannya dipasarkan.

(hen/ang)

Laris Manis di Taiwan, Kasus Indomie ‘Berbahaya’ Berindikasi Perang Dagang

Laris Manis di Taiwan, Kasus Indomie ‘Berbahaya’ Berindikasi Perang Dagang

Masalah pelarangan produk Indomie di Taiwan memunculkan dugaan. Salah satunya adalah isu perang dagang yang dipicu laris manisnya produk mie instant Indonesia itu di Taiwan.
“Ada indikasi, ada kafe yang jual Indomie. Mereka industrinya kena masalah, makanya mereka bikin move seperti itu,” kata Kepala Bidang Perdagangan Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia di Taipei Bambang Mulyanto di gedung DPR-RI, Senayan, Jakarta, Senin (11/10/2010).
Bambang menjelaskan dugaan seperti itu bisa saja terjadi karena produk mie instant Indonesia selain digemari oleh 150.000 TKI di Taiwan juga digemari oleh masyarakat Taiwan.
“Pasarnya paling tidak TKI jumlahnya sampai 150.000 orang, tentunya punya majikan, punya anak, semakin disukai (mie instant Indonesia),” katanya.

Ia menjelaskan, pada hari ini pihak Kamar Dagang Indonesia di Taiwan sudah melakukan klarifikasi di media-media nasional setempat. Berdasarkan laporan yang ia terima, toko-toko di Taiwan masih tidak boleh dijual produk Indomie disamping penjual yang masih takut.

Sementara Plt Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Deddy Saleh mengatakan kasus-kasus semacam ini dalam perdagangan internasional merupakan suatu hal yang biasa. Sehingga langkah klarifikasi perlu dilakukan, pihaknya akan melakukan pengecekan dan klarifikasi resmi terhadap otoritas perdagangan di Taiwan, apakah hal itu sebagai tuduhan resmi atau tidak.
“Kalau tidak betul kita akan protes,” katanya.
Selain itu pihaknya juga akan melakukan klarifikasi kepada produsen mie instant yang di Indonesia untuk memastikan apakah produk tersebut berasal dari Indonesia.
“Karena banyak juga yang ditempel,” katanya.

Seperti diketahui, sebelumnya, media-media di Taiwan memberitakan penarikan Indomie dari sejumlah supermarket. Indomie ditarik karena mengandung Methyl P-Hydroxybenzoate yang dilarang di Taiwan.
Sementara PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk selaku produsen Indomie dalam siaran persnya menegaskan, produk mie instan yang diekspor ke Taiwan sudah memenuhi peraturan dari Departemen Kesehatan Biro Keamanan Makanan Taiwan.

“Sehubungan dengan pemberitaan di media massa Taiwan baru-baru ini, mengenai kandungan bahan pengawet E218 (Methyl P-Hydroxybenzoate) dalam produk mi instan Indomie, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) menjelaskan bahwa produk mi instan yang diekspor oleh Perseroan ke Taiwan telah sepenuhnya memenuhi peraturan dari Departemen Kesehatan Biro Keamanan Makanan Taiwan,” jelas Taufik Wiraatmadja, Direktur ICBP dalam siaran persnya, Senin (11/10/2010). 

ICBP juga berkeyakinan, pemberitaan mengenai mie instan yang muncul di media massa Taiwan, bukanlah merupakan produk mi instan ICBP yang ditujukan untuk pasar Taiwan.

ICBP telah mengekspor produk mi instan ke berbagai negara di seluruh dunia selama lebih dari 20 tahun. Perseroan senantiasa berupaya memastikan bahwa produknya telah memenuhi peraturan dan ketentuan keselamatan makanan yang berlaku di berbagai negara dimana produk mi instannya dipasarkan.

“ICBP menekankan bahwa produk Perseroan telah sepenuhnya memenuhi panduan dan peraturan yang berlaku secara global, yang ditetapkan oleh CODEX Alimentarius Commission, sebuah badan internasional yang mengatur standar makanan. Terkait pemberitaan ini, saat ini kami tengah meninjau situasi di Taiwan, dan akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk melindungi kepentingan konsumen kami di Taiwan dan di berbagai negara lainnya “, katanya. (hen/qom)

Sumber: detikcom

Harry: Kasus Indomie Harus Diperhatikan

Taiwan Razia Indomie

Rabu, 13 Oktober 2010 | 17:08 WIB
KOMPAS IMAGES/DHONI SETIAWAN
Aksi pembakaran mi instan merek Indomie oleh aktivis Visi Indonesia Sehat (VIS) di depan kantor pusat Indofood, Jalan Sudirman, Jakarta Selatan, Rabu (13/10/2010). Mereka mendesak Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) menarik Indomie dari peredaran di pasar domestik. Aksi ini sempat berlangsung tegang karena para demonstran membakar mi instan tersebut.
JAKARTA, KOMPAS.com - Kalangan DPR RI menilai bahwa dalam kasus Indomie perlu diperhatikan apakah disebabkan persaingan bisnis atau tuntutan kriteria kualitas bahan makanan sehat yang makin meningkat di Taiwan.
Bila terbukti ini isu perang dagang, Kementerian Perdagangan harus membela produk Indonesia di luar negeri.
-- Harry Azhar Azis
"Di Indonesia mungkin saja belum menjadi perhatian," kata Wakil Ketua Komisi XI DPR Harry Azhar Azis kepada Tribunnews.com, Rabu (13/10/2010).
Menurut Harry, Badan POM harus segera meneliti kasus ini agar jelas. Kalau disebabkan masalah kesehatan, misalnya mengandung unsur bahan pengawet berbahaya, maka hal itu harus diakui pihak produsen dalam hal ini Indofood.
"Dan konsumen Indonesia juga tidak boleh dikorbankan, justru dari kasus Taiwan ini kita juga menyelamatkan konsumen Indomie di Indonesia, tetapi bila terbukti ini isu perang dagang, pemerintah dalam hal ini Kementerian Perdagangan harus membela produk Indonesia di luar negeri," papar Harry.
Sebab bagaimana pun, lanjut Harry, pemerintah Indonesia wajib membela dan mempertahankan pasar produk Indonesia di luar negeri.
"Tanpa sikap pro-aktif pemerintah seperti itu, size dan potensi produk Indonesia di luar negeri, baik sekarang maupun yang akan datang, akan terus diganggu dalam persaingan global," katanya.
Tribunnews.com
Sumber :
Penulis: Hasanuddin Aco   |   Editor: I Made Asdhiana Dibaca : 2813
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A

Ada 2 Komentar Untuk Artikel Ini. Kirim Komentar Anda

  • Toffy Wagey
    Kamis, 14 Oktober 2010 | 07:21 WIB
    Mohon redaksi mengumpulkan masukan dari para praktisi kesehatan, terutama dokter. Tidak jarang dokter berkomentar bahwa penyakit "ini" akibat mie instan... Wass,

  • Wong Ganteng
    Rabu, 13 Oktober 2010 | 19:34 WIB
    Jangan belok2in topik utama (bahan pengawet) ke persaingan dagang dong, ini mah jurus ORDE BARU. Saya udah lama kerja di Taiwan, depkes sini memang scr rutin memeriksa semua komoditi yg beredar di pasar, tanpa peduli negara asalnya. Bulan lalu ada mie kering lokal juga kena diturunkan dari rak. Yang seharusnya diperhatikan seharusnya: apakah BPOM kita juga serajin depkes Taiwan? apakah Indomie yg beredar di Indonesia benar-benar aman bagi rakyat Indonesia? Malu sekali saya melihat berita di Kompas. Ternyata kita masih suka mencari kambing hitam dan belum belajar introspeksi dan kerja nyata dengan jujur.
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.

YLKI Lansir 10 Produk Makanan Bermelamin

Rabu, 04/03/2009 11:49 WIB

Iif Rahmat Fauzi - detikNews




Jakarta - Masyarakat harus selektif memilih makanan yang bebas dari melamin. 10 Produk makanan ditemukan mengandung melamin berdasarkan uji laboratorium.

"Ada 10 produk yang terbukti mengandung melamin dalam uji laboratorium yang dilakukan oleh peneliti UI dari jurusan Kimia FMIPA UI Depok pada Desember 2008," ujar Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Husna Zahir dalam jumpa pers di kantor YLKI, Jl Pancoran Barat, Jakarta Selatan, Rabu (4/3/2009).

Ke-10 produk makanan itu yakni:

1. Kino Bear Coklat Crispy, isi: 3x3,5 gram, registrasi MD 662211108168, produksi PT Kinosentraindustrindo, kawasan Niaga Selatan Blok B 15, Bandar Kemayoran. Mengandung melamin 97,28 ppm.

2. Yake Assorted Candies, permen coklat panjang, isi 500 gram, tidak bernomor registrasi, produksi Fujian Yake Food, tidak ada alamat importir. Mengandung melamin 56,54 ppm

3. F&M, susu kental manis, isi 390 gram, registrasi ML 505417006156, importir Ikad-Jakarta, mengandung melamin 45,09 ppm

4. Kembang Gula Tirol Choco Mix, isi 10 pieces, registrasi ML 237103407045, importir PT Indomaru Lestari, Jl Semut No 12, Kedaung Kali Angke, Cengkareng, Jakarta Barat. Mengandung melamin 17,18 ppm

5. Dutchmill, yoghurt drink natural, isi 180 ml, registrasi ML 406505001229, produksi Diary Plus Company Limited Nakom Sawan, Thailand. Importir PT Nirwana Lestari, Jl Raya Narogong Km 7, Bantar Gebang, Bekasi. Mengandung melamin 15,98 ppm

6. Pura Low Fat UHT milk beverage, isi 1 L, registrasi ML 405708002189, produksi Fonterra Brands New Zealand, importir PT Sukanda Jaya, kawasan industri MM 2100 Jl Irian Blok FF No 2, Cibitung, Bekasi. Mengandung melamin 11,70 ppm

7. Nestle Bear Brand Sterilized Low Fat Milk, isi 140 ml, produksi F&N Dairies Thailand. Mengandung melamin 10,88 ppm

8. Crown Lonx Biskuit rasa coklat, berat 150 gram, registrasi ML 827118009109, produksi Crown Con Co ltd, importir PT Koin Bumi, Jalan Senayan 43, Jakarta 12180. Mengandung melamin 9,54 ppm

9. Fan Fun Sweet Heart Biscuit, berat 45 gram, tidak ada nomor registrasi, tidak ada alamat importir. Mengandung melamin 3,17 ppm

10. Yake Assorted Candies, berat 500 gram, jenis permen coklat lonjong agak lentur, tidak ada nomor registrasi, produksi Fujian Yake Food C ltd China. Mengandung melamin 1,15 ppm.

Menurut Husna, YLKI sudah mengajukan hasil uji laboratorium ini ke BPOM. Namun saat ini belum ada hasil kajian dari BPOM.

Peneliti FMIPA UI Sunardi mengatakan, melamin dapat mengkristal dalam bubuk sehingga dapat menyumbat paru-paru dan ginjal. "Ini menyebabkan batu ginjal pada orang," kata Sunardi. (nik/nrl)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!

Nestle Jamin Produknya di Indonesia Aman Dikonsumsi

Rabu, 04/03/2009 22:15 WIB

Aprizal Rahmatullah - detikNews




Jakarta - Pihak Nestle Indonesia membantah tudingan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) bila produk mereka mengandung melamin. Nestle menyebut bila semua produk mereka yang diproduksi, diimpor, dan didistribusikan serta dipasarkan di Indonesia aman untuk dikonsumsi.

"Semua produk yang dipasarkan oleh PT Nestle Indonesia baik produk lokal maupun produk impor telah didaftarkan di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan memiliki nomor regitrasi produk (MD/ML)," kata Direktur Corporate and Public Affair Nesle Indonesia Syahlan SIregar, dalam siaran pers yang diterima detikcom, Rabu (4/3/2009).

Syahlan menjelaskan penjelasan ini diberikan sehubungan adanya pernyataan mengenai jejak melamin dalam beberapa produk diantaranya Nestle Bear Brand Strelized Low Fat Milk isi 140 Ml, produksi F&N Dairies Thailand dengan label bahasa asing tanpa nomor ML BPOM.

"Nestle Indonesia secara rutin menganalisa semua produknya baik susu maupun non susu di laboratorium regional di Singapura yang telah mendapat akreditasi internasional, untuk memastikan produk tersebut aman dikonsumsi," jelas Syahlan. (ndr/lrn)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!

YLKI Temukan 11 Merk Air Minum Kemasan Mengandung Bakteri Berlebih


Rabu, 27/10/2010 13:47 WIB

Lia Harahap - detikNews




Jakarta - Semakin tahun, produksi air minum dalam kemasan (AMDK) gelas semakin tak terhitung jumlahnya. Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia melakukan penelitian untuk meneliti kadar bakteri yang terkandung dalam minuman kemasan tersebut.

"Dari 21 merk minuman kemasan gelas yang kita uji, 11 di antaranya ditemukan nilai bakteri yang bermasalah," ujar peneliti YLKI, Ida Marlinda Loenggana, dalam jumpa pers mengenai hasil uji AMDK di Kantor YLKI, Jl Pancoran Barat, Duren Tiga, Jakarta, Rabu (28/10/2010).

Produk air minuman kemasan yang diteliti YLKI, menurut Ida, tidak terfokus pada produk yang sudah mempunyai nama saja. YLKI juga mengambil sampel dari merk-merk yang jarang terdengar di pasaran.

Penelitian ini, lanjut Ida, dilakukan YLKI pada sejak bulan Maret hingga Mei 2010. Sampel produk-produk air minuman itu mereka dapatkan dari pasar tradisional, swalayan, dan juga mal-mal.

"Dan daerah itu kita pilih tersebar tapi ada juga yang sampai di Cilincing, Penggilingan, yang umum di sekitar utara dan timur (Jakarta)," kata Ida.

Dari 11 merk air minum kemasan yang bermasalah tersebut, lanjut Ida, ditemukan total bakteri mencapai 1.000 sampai 100.000 koloni/mL. Padahal, menurut Standar SNI kandungan mikrobiologi untuk air minum itu maksimal 100 sampai 1.000 koloni/mL.

"Dari 11 ini, kita menemukan 9 yang mendekati yaitu Pretige, Top Aqua, Air Max, Caspian, Club, Pasti Air,Vit, Prima, De As. Sedangkan 2 yang melebihi batas itu ada Ron88 dan Sega. Dengan tanggal kadaluarsa yang beragam. Ada yang Januari 2011 sampai Oktober 2011," imbuhnya.

"Tapi kalaupun tanggal kadaluarsanya masih jauh, tapi sudang mengandung bakteri lagi bagaimana ke depannya," lanjut Ida.

Terhadap 11 merk ini, YLKI menurut Ida sudah mencoba meminta klarifikasi. Tapi hanya merk yang mempunyai alamat langkap dan memberikan tanggapan.

"Sedangkan yang dua lagi tidak punya alamat padahal mereka punya nomer registrasi," jelasnya.

Ida mengatakan, dari berbagai tanggapan yang diterima YLKI banyak yang positif terhadap penelitian yang dilakukan YLKI ini. Namun sayangnya, pihak produsen umumnya lebih menyalahkan nilai bakteri yang berkembang itu bertambah setelah usai masa produksi.

"Banyak yang positif, tapi ada juga yang negatif, kalau negatifnya, mereka umumnya menyalahkan pada saat proses distribusi dan proses penyimpanan dan penempatan pada saat prosuk tersebut sampaik ke penjual. Penjual yang membiarkan terkena matahari pasti bakteri akan berkembang," tegas Ida.

YLKI berharap dengan penelitian ini, pihak produsen lebih bertanggung jawab. Karena sistem pengawasan produk mutlak sampai ke tangan konsumen. YLKI juga berpesan pada masyarakat untuk lebih mempertimbangkan pemilihan produk air minum kemasan.

"Produsen bertanggung jawab memenuhi standar keamanan dan keselataman. Masyarakat juga jangan karena memilih yang murak tapi tidak mempertimbangkan aspek kandungannya. Dan kepada penegak hukum jika ada produsen nakal yang tidak memperbaiki dan bertanggung jawab kita berharap diberikan sanksi yang menjerakan," tandasnya.
(lia/lrn)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!

PT Sosro Jamin Prim-A Telah Sesuai Standar SNI-AMDK

Kamis, 28/10/2010 23:10 WIB

Aprizal Rahmatullah - detikNews



Jakarta - Manajemen air minum kemasan Prim-A mengklarifikasi hasil uji YLKI. Produsen Prim-A, PT Sosro menjamin air kemasan yang dikeluarkannya telah sesuai standar.

"SNI-AMDK (Standar Nasional Indonesia – Air Minum Dalam Kemasan) merupakan standar wajib yang menjamin produk AMDK yang beredar di Indonesia sesuai dengan persyaratan keamanan produk. Prim-A telah memperoleh Sertifikat SNI-AMDK," kata Manajemen PT. Sinar Sosro, Produsen Air Minum Prim-A dalam rilis yang diterima detikcom, Kamis (28/10/2010).

Menurutnya, Prim-A sertifikat SNI diberikan kepada produsen AMDK yang mampu menghasilkan AMDK sesuai persyaratan dan produknya layak dikonsumsi. Prim-A telah memperoleh Sertifikat SNI-AMDK.

"Hasil uji YLKI pada Prim-A Kemasan cup 240 ml adalah sesuai standar SNI. Kami (Produsen Prim-A) sudah melakukan komunikasi dengan YLKI, dan Kami sudah melakukan uji laboratorium lanjutan, yang memperoleh hasil bahwa Prim-A kemasan cup 240 ml juga sesuai standar SNI," jelasnya.

Produsen Prim-A menjamin produknya aman dikonsumsi. Karena selalu ada uji berkala yang berkesinambungan untuk setiap produk-produk yang di keluarkan.

"YLKI Tidak pernah menyatakan Prim-A Cup 240 ml tidak sesuai SNI. Prim-A kemasan 240 ml memenuhi standar SNI. Prim-A kemasan 240 ml aman untuk dikonsumsi," tandasnya.

Sebelumnya, YLKI melansir 21 merk minuman kemasan gelas yang telah diuji 11 di antaranya ditemukan nilai bakteri yang bermasalah. Dari 11 merk air minum kemasan yang bermasalah tersebut ditemukan total bakteri mencapai 1.000 sampai 100.000 koloni/mL. Padahal, menurut Standar SNI kandungan mikrobiologi untuk air minum itu maksimal 100 sampai 1.000 koloni/mL.

"Dari 11 ini, kita menemukan 9 yang mendekati yaitu Pretige, Top Aqua, Air Max, Caspian, Club, Pasti Air,Vit, Prima, De As. Sedangkan 2 yang melebihi batas itu ada Ron88 dan Sega. Dengan tanggal kadaluarsa yang beragam. Ada yang Januari 2011 sampai Oktober 2011," kata peneliti YLKI Ida Marlinda Loenggana, dalam jumpa pers mengenai hasil uji AMDK di Kantor YLKI, Jl Pancoran Barat, Duren Tiga, Jakarta, Rabu (28/10/2010).

(ape/fjr)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!

YLKI: Kasus Prita Adalah Bentuk Pembungkaman Konsumen




email prita mulyasarKasus Prita Mulyasari (32) dan Rumah Sakit Omni International yang berujung pada kasus pidana dan sempat disekapnya Ibu dua anak itu di penjara mendapat tanggapan dari Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI).
Kasus ini berawal ketika Prita Mulyasari menuliskan keluhannya atas pelayanan Rumah Sakit Omni International yang tidak memuaskan melalui email ke kalangan taerbatas yang kemudian isi surat elektronik ini tersebar di berbagai macam forum dan milis.
Rumah Sakit Omni Internasional bukannya menanggapi positif komplain tersebut dan menyelesaikan secara kekeluargaan, justru bersikap arogan dengan melaporkan Prita ke kepolisian sebagai kasus pencemaran nama baik dan berakhir dengan ditangkapnya Prita.
Seperti dikutip dari Antara News, Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Indah Suksmaningsih di Jakarta, Kamis mengatakan kasus pidana pencemaran nama baik dengan tersangka Prita Mulyasari (32) merupakan bentuk pembungkaman terhadap konsumen.

Menurutnya penulisan yang dilakukan Prita adalah suatu bentuk informasi mengenai pelayanan publik, maka masyarakat harus mengetahui tentang hal itu.
“Seharusnya pihak rumah sakit Omni menerima `feed back` yang dilakukan oleh Prita dan melakukan pendekatan lebih secara kekeluargaan serta menggunakan hati nurani, bukan langsung dengan jalur hukum seperti ini,” tandasnya.
Dijelaskan Indah, bila dengan cara surat eletronik (email) disampaikan Prita menimbulkan masalah, jadi harus bagaimana lagi masyarakat mengadukan keluhannya.
“Kemana masyarakat harus menyampaikan keluhannya, untuk melapor ke pemerintah tidak mungkin, karena akan sia-sia saja,” katanya.
Prita menyampakan hal ini dalam bentuk tulisan email lantaran mempertanyakan mengapa rumah sakit internasional tersebut tidak memberikan hasil tes trombosit kepada dirinya. Padahal, tes trombosit tersebut menjadi alasan rumah sakit agar Prita dirawat inap.
Indah juga menyayangkan, rumah sakit Omni yang berskala internasional ini tidak mau mendengar masukan dari masyarakat, yang notabenenya menuju perkembangan yang lebih maju bagi rumah sakit.
“Jangan mentang-mentang memiliki dana langsung menggunakan jalur hukum untuk menghadapi masyarakat kecil,” ujarnya.
Bila saat ini kasus pencemaran nama baik sudah mulai disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Tangerang, Indah pesimistis bahwa pengadilan akan berpihak kepada kaum lemah.
Kasus Prita vs RS Omni International ini juga mendapatkan tanggapan luar biasa dari komunitas dunia online. Ribuan blogger dan facebooker menyatakan dukungan mereka pada Prita.
***
Berikut isi email Prita Mulyasari :
(sumber : http://www.mail-archive.com/parentsguide@yahoogroups.com/msg09863.html)
From: prita mulyasari [mailto:prita. mulyasari@ yahoo.com]
Sent: Friday, August 15, 2008 3:51 PM
To:
Subject: Penipuan OMNI Iternational Hospital Alam Sutera Tangerang
Jangan sampai kejadian saya ini akan menimpa ke nyawa manusia lainnya, terutama
anak-anak, lansia dan bayi.
Bila anda berobat, berhati-hatilah dengan kemewahan RS dan title International
karena semakin mewah RS dan semakin pintar dokter maka semakin sering uji coba
pasien, penjualan obat dan suntikan.
Saya tidak mengatakan semua RS International seperti ini tapi saya mengalami
kejadian ini di RS Omni International.
Tepatnya tanggal 7 Agustus 2008 jam 20.30 WIB, saya dengan kondisi panas tinggi
dan pusing kepala, datang ke RS. OMNI Intl dengan percaya bahwa RS tersebut
berstandard International, yang tentunya pasti mempunyai ahli kedokteran dan
manajemen yang bagus.
Saya diminta ke UGD dan mulai diperiksa suhu badan saya dan hasilnya 39
derajat. Setelah itu dilakukan pemeriksaan darah dan hasilnya adalah
thrombosit saya 27.000 dengan kondisi normalnya adalah 200.000, saya
diinformasikan dan ditangani oleh dr. Indah (umum) dan dinyatakan saya wajib
rawat inap. Dr. Indah melakukan pemeriksaan lab ulang dengan sample darah saya
yang sama dan hasilnya dinyatakan masih sama yaitu thrombosit 27.000. Dr.
Indah menanyakan dokter specialist mana yang akan saya gunakan tapi saya
meminta referensi darinya karena saya sama sekali buta dengan RS ini. Lalu
referensi dr. Indah adalah dr. Henky. Dr. Henky memeriksa kondisi saya dan
saya menanyakan saya sakit apa dan dijelaskan bahwa ini sudah positif demam
berdarah.
Mulai malam itu saya diinfus dan diberi suntikan tanpa penjelasan atau ijin
pasien atau keluarga pasien suntikan tersebut untuk apa. Keesokan pagi,
dr.Henky visit saya dan menginformasikan bahwa ada revisi hasil lab semalam
bukan 27.000 tapi 181.000 (hasil lab bisa dilakukan revisi?), saya kaget tapi
dr. Henky terus memberikan instruksi ke suster perawat supaya diberikan
berbagai macam suntikan yang saya tidak tahu dan tanpa ijin pasien atau
keluarga pasien. Saya tanya kembali jadi saya sakit apa sebenarnya dan tetap
masih sama dengan jawaban semalam bahwa saya kena demam berdarah. Saya sangat
kuatir karena dirumah saya memiliki 2 anak yang masih batita jadi saya lebih
memilih berpikir positif tentang RS dan dokter ini supaya saya cepat sembuh dan
saya percaya saya ditangani oleh dokter profesional standard Internatonal.
Mulai Jumat terebut saya diberikan berbagai macam suntikan yang setiap suntik
tidak ada keterangan apapun dari suster perawat, dan setiap saya meminta
keterangan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan, lebih terkesan suster
hanya menjalankan perintah dokter dan pasien harus menerimanya. Satu box
lemari pasien penuh dengan infus dan suntikan disertai banyak ampul.
Tangan kiri saya mulai membengkak, saya minta dihentikan infus dan suntikan dan
minta ketemu dengan dr. Henky namun dokter tidak datang sampai saya dipindahkan
ke ruangan. Lama kelamaan suhu badan saya makin naik kembali ke 39 derajat dan
datang dokter pengganti yang saya juga tidak tahu dokter apa, setelah dicek
dokter tersebut hanya mengatakan akan menunggu dr. Henky saja.
Esoknya dr. Henky datang sore hari dengan hanya menjelaskan ke suster untuk
memberikan obat berupa suntikan lagi, saya tanyakan ke dokter tersebut saya
sakit apa sebenarnya dan dijelaskan saya kena virus udara. Saya tanyakan
berarti bukan kena demam berdarah tapi dr. Henky tetap menjelaskan bahwa demam
berdarah tetap virus udara. Saya dipasangkan kembali infus sebelah kanan dan
kembali diberikan suntikan yang sakit sekali.
Malamnya saya diberikan suntikan 2 ampul sekaligus dan saya terserang sesak
napas selama 15 menit dan diberikan oxygen. Dokter jaga datang namun hanya
berkata menunggu dr. Henky saja. Jadi malam itu saya masih dalam kondisi infus
padahal tangan kanan saya pun mengalami pembengkakan seperti tangan kiri saya.
Saya minta dengan paksa untuk diberhentikan infusnya dan menolak dilakukan
suntikan dan obat-obatan.
Esoknya saya dan keluarga menuntut dr. Henky untuk ketemu dengan kami namun
janji selalu diulur-ulur dan baru datang malam hari. Suami dan kakak-kakak
saya menuntut penjelasan dr. Henky mengenai sakit saya, suntikan, hasil lab
awal yang 27.000 menjadi revisi 181.000 dan serangan sesak napas yang dalam
riwayat hidup saya belum pernah terjadi.
Kondisi saya makin parah dengan membengkaknya leher kiri dan mata kiri saya.
Dr, Henky tidak memberikan penjelasan dengan memuaskan, dokter tersebut malah
mulai memberikan instruksi ke suster untuk diberikan obat-obatan kembali dan
menyuruh tidak digunakan infus kembali. Kami berdebat mengenai kondisi saya
dan meminta dr. Henky bertanggung jawab mengenai ini dari hasil lab yang
pertama yang seharusnya saya bisa rawat jalan saja. Dr. Henky menyalahkan
bagian lab dan tidak bisa memberikan keterangan yang memuaskan.
Keesokannya kondisi saya makin parah dengan leher kanan saya juga mulai
membengkak dan panas kembali menjadi 39 derajat namun saya tetap tidak mau
dirawat di RS ini lagi dan mau pindah ke RS lain. Tapi saya membutuhkan data
medis yang lengkap dan lagi-lagi saya dipermainkan dengan diberikan data medis
yang fiktif.
Dalam catatan medis, diberikan keterangan bahwa BAB saya lancar padahal itu
kesulitan saya semenjak dirawat di RS ini tapi tidak ada follow upnya
samasekali. Lalu hasil lab yang diberikan adalah hasil thrombosit saya yang
181.000 bukan 27.000.
Saya ngotot untuk diberikan data medis hasil lab 27.000 namun sangat dikagetkan
bahwa hasil lab 27.000 tersebut tidak dicetak dan yang tercetak adalah 181.000,
kepala lab saat itu adalah dr. Mimi dan setelah saya complaint dan marah-marah,
dokter tersebut mengatakan bahwa catatan hasil lab 27.000 tersebut ada di
Manajemen Omni maka saya desak untuk bertemu langsung dengan Manajemen yang
memegang hasil lab tersebut.
Saya mengajukan complaint tertulis ke Manajemen Omni dan diterima oleh Ogi
(customer service coordinator) dan saya minta tanda terima. Dalam tanda terima
tersebut hanya ditulis saran bukan complaint, saya benar-benar dipermainkan
oleh Manajemen Omni dengan staff Ogi yang tidak ada service nya sama sekali ke
customer melainkan seperti mencemooh tindakan saya meminta tanda terima
pengajuan complaint tertulis.
Dalam kondisi sakit, saya dan suami saya ketemu dengan Manajemen, atas nama Ogi
(customer service coordinator) dan dr. Grace (customer service manager) dan
diminta memberikan keterangan kembali mengenai kejadian yang terjadi dengan
saya.
Saya benar-benar habis kesabaran dan saya hanya meminta surat pernyataan dari
lab RS ini mengenai hasil lab awal saya adalah 27.000 bukan 181.000 makanya
saya diwajibkan masuk ke RS ini padahal dengan kondisi thrombosit 181.000 saya
masih bisa rawat jalan.
Tanggapan dr. Grace yang katanya adalah penanggung jawab masalah complaint saya
ini tidak profesional samasekali. Tidak menanggapi complaint dengan baik, dia
mengelak bahwa lab telah memberikan hasil lab 27.000 sesuai dr. Mimi
informasikan ke saya. Saya minta duduk bareng antara lab, Manajemen dan dr.
Henky namun tidak bisa dilakukan dengan alasan akan dirundingkan ke atas
(Manajemen) dan berjanji akan memberikan surat tersebut jam 4 sore.
Setelah itu saya ke RS lain dan masuk ke perawatan dalam kondisi saya
dimasukkan dalam ruangan isolasi karena virus saya ini menular, menurut analisa
ini adalah sakitnya anak-anak yaitu sakit gondongan namun sudah parah karena
sudah membengkak, kalau kena orang dewasa yang ke laki-laki bisa terjadi
impoten dan perempuan ke pankreas dan kista. Saya lemas mendengarnya dan
benar-benar marah dengan RS Omni yang telah membohongi saya dengan analisa
sakit demam berdarah dan sudah diberikan suntikan macam-macam dengan dosis
tinggi sehingga mengalami sesak napas.
Saya tanyakan mengenai suntikan tersebut ke RS yang baru ini dan memang saya
tidak kuat dengan suntikan dosis tinggi sehingga terjadi sesak napas.
Suami saya datang kembali ke RS Omni menagiih surat hasil lab 27.000 tersebut
namun malah dihadapkan ke perundingan yang tidak jelas dan meminta diberikan
waktu besok pagi datang langsung ke rumah saya. Keesokan paginya saya tunggu
kabar orang rumah sampai jam 12 siang belum ada orang yang datang dari Omni
memberikan surat tersebut. Saya telepon dr. Grace sebagai penanggung jawab
compaint dan diberikan keterangan bahwa kurirnya baru mau jalan ke rumah saya
namun sampai jam 4 sore saya tunggu dan ternyata belum ada juga yang datang
kerumah saya. Kembali saya telepon dr. Grace dan dia mengatakan bahwa sudah
dikirim dan ada tanda terima atas nama Rukiah, ini benar-benar kebohongan RS
yang keterlaluan sekali, dirumah saya tidak ada nama Rukiah, saya minta
disebutkan alamat jelas saya dan mencari datanya sulit sekali dan membutuhkan
waktu yang lama. Logikanya dalam tanda terima tentunya ada alamat jelas surat
tertujunya kemana kan ? makanya saya sebut
Manajemen Omni PEMBOHONG BESAR semua. Hati-hati dengan permainan mereka yang
mempermainkan nyawa orang.
Terutama dr. Grace dan Ogi, tidak ada sopan santun dan etika mengenai pelayanan
customer, tidak sesuai dengan standard International yang RS ini cantum.
Saya bilang ke dr. Grace, akan datang ke Omni untuk mengambil surat tersebut
dan ketika suami saya datang ke Omni hanya dititipkan ke resepsionis saja dan
pas dibaca isi suratnya sungguh membuat sakit hati kami, pihak manajemen hanya
menyebutkan mohon maaf atas ketidaknyamanan kami dan tidak disebutkan mengenai
kesalahan lab awal yang menyebutkan 27.000 dan dilakukan revisi 181.000 dan
diberikan suntikan yang mengakibatkan kondisi kesehatan makin memburuk dari
sebelum masuk ke RS Omni.
Kenapa saya dan suami saya ngotot dengan surat tersebut? karena saya ingin tahu
bahwa sebenarnya hasil lab 27.000 itu benar ada atau fiktif saja supaya RS Omni
mendapatkan pasien rawat inap. Dan setelah beberapa kali kami ditipu dengan
janji maka sebenarnya adalah hasil lab saya 27.000 adalah FIKTIF dan yang
sebenarnya saya tidak perlu rawat inap dan tidak perlu ada suntikan dan sesak
napas dan kesehatan saya tidak makin parah karena bisa langsung tertangani
dengan baik.
Saya dirugikan secara kesehatan, mungkin dikarenakan biaya RS ini dengan
asuransi makanya RS ini seenaknya mengambil limit asuransi saya semaksimal
mungkin tapi RS ini tidak memperdulikan efek dari keserakahan ini.
Ogi menyarankan saya bertemiu dengan direktur operasional RS Omni (dr. Bina)
namun saya dan suami saya terlalu lelah mengikuti permainan kebohongan mereka
dengan kondisi saya masih sakit dan dirawat di RS lain.
Syukur Alhamdulilah saya mulai membaik namun ada kondisi mata saya yang selaput
atasnya robek dan terkena virus sehingga penglihatan saya tidak jelas dan
apabila terkena sinar saya tidak tahan dan ini membutuhkan waktu yang cukup
untuk menyembuhkan.
Setiap kehidupan manusia pasti ada jalan hidup dan nasibnya masing-masing,
benar…. tapi apabila nyawa manusia dipermainkan oleh sebuah RS yang dpercaya
untuk menyembuhkan malah mempermainkan sungguh mengecewakan, semoga Allah
memberikan hati nurani ke Manajemen dan dokter RS Omni supaya diingatkan
kembali bahwa mereka juga punya keluarga, anak, orang tua yang tentunya suatu
saat juga sakit dan membutuhkan medis, mudah-mudahan tidak terjadi seperti yang
saya alami di RS Omni ini.
Saya sangat mengharapkan mudah-mudahan salah satu pembaca adalah karyawan atau
dokter atau Manajemen RS Omni, tolong sampaikan ke dr. Grace, dr. Henky, dr.
Mimi dan Ogi bahwa jangan sampai pekerjaan mulia kalian sia-sia hanya demi
perusahaan Anda.
Saya informasikan juga dr. Henky praktek di RSCM juga, saya tidak mengatakan
RSCM buruk tapi lebih hati-hati dengan perawatan medis dari dokter ini.
salam,

Prita Mulyasari

Mencari Mutu Air Kemasan




 
Pelbagai produk air minum dalam kemasan yang melenggang di pasar boleh dibilang serupa tapi tak sama. Serupa isinya namun acap kali lain mutunya. Tak mudah memang membedakan mutunya kalau cuma selintasan. Setidaknya, tulisan berikut bisa membantu Anda.

Anda percaya kalau kita sebenarnya pantas disebut "makhluk air"? Kalau mau hitung-hitungan persis, manusia normal membutuhkan air berkisar 2,1 liter s/d 3,4 liter per hari. Tidak sekadar menjawab rasa haus, air yang kita konsumsi harus memenuhi kebutuhan tubuh akan cairan intraselular dan ekstraselular. Sesuai namanya, yang intraselular adalah cairan di dalam sel yang memungkinkan sel berfungsi. Sedangkan yang ekstraselular merendam sel-sel, mengalirkan nutrisi, sel, dan produk buangan melewati jaringan-jaringan dalam tubuh.
Bumi sebenarnya menyediakan banyak sekali sumber air. Ada air permukaan (sungai, danau, laut), air angkasa (air hujan, salju) ada pula air tanah (ada air tanah dangkal, selain yang dalam). Hanya saja, tak beda dengan produk yang berjajar di toko, masing-masing mempunyai kualitasnya sendiri. Yang paling rentan pencemaran, ya, air permukaan. Namun, gara-gara masalah lingkungan, air tanah dangkal pun ikutan terimbas polutan.

Awas, produsen nakal
Padahal penduduk yang tidak terakomodasi air PAM dengan sendirinya lari ke air tanah dangkal ini. Bagaimana pula? Memang mengesalkan tapi fakta berbicara, air bening belum tentu sehat. Mineral yang dibutuhkan bagi kesehatan tubuh itu, dalam kadar yang tidak pas bisa menjadi malapetaka. Sebagai contoh, kandungan mangan (Mn) yang pas berguna dalam mengaktifkan sejumlah enzim dalam tubuh, namun kandungan di atas 0,5 mg/l dapat menyebabkan rasa aneh, meninggalkan noda kecoklatan pada cucian, dan yang paling gawat, dapat menyebabkan kerusakan pada hati. Seng (Zn) dalam jumlah kecil merupakan unsur penting dalam metabolisme sehingga kalau anak kekurangan seng, pertumbuhannya bisa terhambat. Namun, terlalu banyak seng akan menyebabkan rasa pahit dan sepet pada air minum.

Jadi, tak heranlah kalau kebutuhan akan air minum dalam kemasan, sebutan resminya AMDK, sudah tercipta dan berhasil terpelihara sampai sekarang. Konsumsinya dari tahun ke tahun terus menanjak. Dari 4,18 miliar liter di tahun 1999 merambat terus hingga 5 miliar liter di tahun 2000. Mengingat tingkat konsumsi itu dibandingkan dengan orang Eropa masih sepersepuluhnya, peluang tumbuhnya jelas masih terbuka lebar.
Adanya demand yang disambut oleh supply sebenarnya wajar-wajar saja. Sayang sekali, industri yang sedang sumringah ini belakangan belum menunjukkan tanda-tanda telah tertata dengan baik. Salah satu yang mengintip sebagai indikasi, misalnya, dari 270 perusahaan AMDK yang terdaftar di Deperindag (meski yang berproduksi baru 150-an), yang menjadi anggota Asosiasi Perusahaan Air Minum dalam Kemasan Indonesia (Aspadin) baru 70 perusahaan. Kenapa gerangan?

"Perusahaan-perusahaan yang nakal tidak mau bergabung dengan kami," jawab Wakil Ketua Umum Aspadin, Willy Sidharta. Meski tidak tegas-tegas memberlakukan peraturan, apalagi keanggotaannya bersifat sukarela, ada kode etik bagi anggota asosiasi. Taruhlah dalam hal tata cara berusaha, juga penerapan Good Manufacturing Practice (GMP).

Tentu saja itu usaha yang bagus. Belum lama ini Aspadin melaporkan kasus temuan mereka kepada Deperindag tentang perusahaan AMDK yang menjual produknya tanpa kemasan. Konsumen datang ke depo mereka dengan membawa botol kemasan bekas dari merek apa saja, untuk diisi ulang. Sangat menguntungkan, karena menghapus ongkos yang mestinya mencakup 75 - 85% dari seluruh biaya produksi. Tapi apakah pengemasan dengan cara demikian bisa terjaga sterilitasnya? Lalu bila ada masalah, siapa yang harus bertanggung jawab?

Padahal Keputusan Menperindag no. 167/1997 telah memberikan definisi yang jelas mengenai AMDK, yaitu air yang telah diolah dan dikemas serta aman untuk diminum. Terhadap produk-produk yang kurang terjaga keamanannya ini, seharusnya ada pengawasan.

Hanya saja, seperti yang dikeluhkan oleh Willy Sidharta, pengawasan itu masih kurang terkoordinasi. Alangkah idealnya, begitu ia berharap, "Kalau ada sebuah badan yang mencakup semua unsur yang berkepentingan dalam industri ini: ya pemerintah, ya konsumen, pun dari asosiasi industri. Dengan demikian, segala peraturan yang sudah baik akan terimplementasi dengan baik pula."

Awas, bau!
Sementara itu kita sebagai konsumen mau tak mau mesti pandai-pandai bersilat melindungi diri dari produk-produk bermasalah. Untuk menyebut contoh, pada produk yang semestinya bening, tak berasa, tak berbau ini terkadang ditemukan "pasir" berwarna hitam, atau putih, atau algae (ganggang) juga berbau. Pihak Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), yang tahun lalu menerima sembilan pengaduan produk AMDK dari merek berbeda-beda (sebagian besar menyangkut kualitas air), menuding masalah metode penyimpananlah kemungkinan penyebabnya.

"Banyak botol kemasan AMDK menggunakan bahan plastik poliakrilat, bahan yang sangat tidak tahan panas dan mudah menyerap bau. Oleh karena itu cara paling ideal menyimpan AMDK adalah di tempat sejuk yang terlindung dari matahari dengan suhu di bawah suhu kamar," ujarnya Ilyani S. Andang, dari Bagian Penelitian YLKI. Namun, ia menyayangkan, soal metode penyimpanan belum diatur dalam peraturan pemerintah.

Boro-boro soal metode penyimpanan, soal tanggal kedaluwarsa saja, yang jelas-jelas merupakan keharusan menurut Undang-Undang no. 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen di bawah judul Label Pangan, dalam berbagai tingkatan belum sepenuhnya ditaati. Ada yang mengaku telah mencantumkan kode produksi, "Dan itu berarti tanggal kedaluwarsanya dua tahun setelah itu," namun tak langka pula produk-produk "gerilya" yang mencantumkan kode sulap yang sulit dipahami konsumen.

Kepada kita yang menemukan kasus-kasus AMDK seperti ini, apalagi bila sampai mengalami mules, misalnya, yang diduga akibat mengkonsumsi AMDK, Ilyani mengimbau agar jangan ragu melaporkannya kepada YLKI atau Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), dengan membawa bukti produk yang dicurigai telah tercemar.

Bau dari luar ternyata bisa menyusupi kemasan AMDK. Kalau tidak percaya, cobalah simpan AMDK di dekat buah durian, minyak tanah, atau kamfer. Kasus kamfer ini memang pernah terjadi. "Akibatnya, terbentuk kristal-kristal di dalam air," tutur Anna Djati Susanti dari bagian Penelitian & Pengembangan Aqua.

Pengaruh panas matahari
Namun, bahwa plastik bisa berpengaruh terhadap AMDK ternyata tidak sepenuhnya disetujui oleh Prof. dr. Juli Soemirat Slamet, MPH., Ph.D. dari Laboratorium Kesehatan dan Toksikologi Industri Institut Teknologi Bandung. Botol kemasan AMDK bahkan terbukti bisa dijadikan alat sterilisasi air minum yang sederhana. Ini pernah dipraktikkan dalam sebuah proyek Depkes di tahun 1990-an, yang dibiayai Bank Dunia di mana ia aktif di dalamnya. Di enam propinsi di Sulawesi, penduduk desa terpencil yang kesulitan air dianjurkan memanfaatkan botol kemasan AMDK untuk mensterilkan air minum. Caranya, botol berisi air tanah itu dimasukkan ke dalam plastik kresek hitam (warna yang menyerap panas), lalu dijemur di atas atap rumah tanpa batasan waktu tertentu. Air minum yang dihasilkan cukup baik.
 

Juli sama sekali menepis kemungkinan pencemaran AMDK akibat adanya zat dari kemasan yang terlarut. Kemungkinan itu tidak ada, selama prosesnya menggunakan ozon atau UV (ultraviolet). "Itu 'kan proses dingin. Jadi, airnya tidak mudah melarutkan senyawa dalam plastik kemasan. Tapi kalau airnya panas, mungkin saja terjadi pelarutan senyawa kemasan. Lagi pula, kalau air dan kemasannya sudah bersih dari berbagai bahan pengotor, termasuk algae, kualitasnya tidak akan menurun sekalipun terkena sinar matahari," katanya.

Ia tidak menolak kemungkinan terjadinya reaksi pada zat plastik kemasan akibat panas. Namun, untuk terjadinya proses reaksi pada plastik, selain panas yang cukup juga dibutuhkan derajat keasaman yang cukup. Padahal, pH (derajat keasaman) AMDK itu netral. Kecil sekali kemungkinan, panas matahari, yang paling-paling menaikkan suhu air sampai 40oC akan menimbulkan reaksi pada plastik kemasan. Kalaupun setelah kena panas matahari timbul algae, ia mempertanyakan apakah itu bukan tanda bahwa sebelumnya produk AMDK itu sudah terkontaminasi?

Penuturan dr. Juli Soemirat ternyata dibenarkan oleh Willy Sidharta, yang juga Presdir PT Aqua Golden Mississippi Tbk. Diakuinya, peringatan untuk menjauhkan dari sinar matahari itu hanya bersifat berjaga-jaga terhadap kondisi ekstrem. Bahkan diakuinya, banyak pengecer produknya di warung kaki lima "menjemur" produknya, namun karena dalam jangka waktu 2 s/d 3 hari biasanya sudah terjual, ya, tidak ada masalah. Namun, untuk jangka panjang ia meyakini, tetap saja kemasan plastik bisa berpengaruh pada produk AMDK.

Air tanah dalam (air artesis) diambil dari sumber air jauh di dalam tanah. Air artesis ini mengandung pelbagai mineral, tergantung formasi yang dilaluinya. Karenanya dia disebut air mineral. Secara mikrobiologis, harusnya air artesis juga bersih dari mikroba. Bila proses penangkapan, pengolahan, dan pewadahannya saniter, kualitasnya tidak akan berubah. Selain itu ada yang disebut spring water (sering disebut mata air), yaitu air yang benar-benar berasal dari aquifer (lapisan batuan penyimpan air), sehingga tak mungkin terkontaminasi oleh bahan lain.

Namun, mengingat banyaknya produk asal jadi (termasuk kasus-kasus pemalsuan, bila benar ada) bisa saja suatu produk AMDK tidak diproses sebagaimana mestinya, sehingga ia belum bebas bakteri dan kemasannya tidak hampa udara. Maka kalau ada AMDK yang kemasannya menggembung, dapat dipastikan di dalamnya sudah ada gas dan mestinya juga pencemaran. Betapa pun, hati-hati agaknya menjadi kata kunci bagi para konsumen AMDK.
#dari: intisari
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © Nopember 2010. Marketting dan Penjualan - All Rights Reserved
Template Created by M Imron Pribadi Published by Makrifat Business Online - Offline
Proudly powered by imronpribadi